RADIUS

Fri Oct 22 2021 03:55:52 GMT+0000 (UTC)

#Inspirasi

Mengenang Detik-Detik Wafatnya Rasulullah SAW

Begitu dahsyatnya romansa cinta yang ditampilkan oleh Rasulullah SAW dan Sayyidah ‘Aisyah RA pada detik-detik terakhir hidup beliau

Umat muslim menangis saat mengenang Rasulullah SAW dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. (nuonline)

Freeday

Oleh : Dr. Rosidin, M.Pd.I
(Dosen Pascasarjana STAI Ma’had Aly Al-Hikam)



DETIK-DETIK wafatnya Rasulullah SAW, diceritakan secara gamblang oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin dan ringkasannya yang berjudul al-Mursyid al-Amin. Berikut ini penulis sajikan kilas kisahnya disertai beberapa kontekstualisasi maknanya bagi kehidupan umat muslim kekinian.

Ibn Mas’ud RA berkunjung ke rumah ummul mu’minin Sayyidah ‘Aisyah RA jelang wafatnya Rasulullah SAW. Ibn Mas’ud RA berkata: “Beliau memandangi kami, lalu menangis bercucuran air mata. Lalu beliau bersabda: ‘Selamat datang. Semoga Allah memanjangkan usia kalian, melindungi kalian, dan menolong kalian. Aku wasiatkan agar kalian selalu bertakwa kepada Allah, karena Allah telah memerintahkan aku untuk mengurus kalian. Sesungguhnya aku bagi kalian adalah seorang pemberi peringatan, agar kalian tidak bersikap sombong terhadap Allah dalam memperlakukan hamba-hamba-Nya dan negeri-Nya. Ajalku telah dekat. Sebentar lagi aku akan pulang kepada Allah Ta’ala, ke Sidratul Muntaha dan ke surga tempat menetap yang abadi serta tempat yang ada gelas berisi minuman penuh. Maka sampaikanlah salamku kepada diri kalian dan kepada siapa pun yang ke dalam agama kalian sepeninggalku’.”

Sungguh, pernyataan terakhir Rasulullah SAW adalah suatu kebahagiaan luar biasa bagi segenap umat muslim sepanjang masa. Karena siapapun yang telah masuk agama Islam, maka dia telah mendapatkan salam langsung dari baginda Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, setiap muslim harus selalu istiqamah menjaga keimanan dan keIslaman; agar tidak sampai keluar dari agama Islam (murtad). Entah disebabkan faktor ekonomi, apalagi faktor asmara untuk menikah dengan pasangan lintas agama.

Di kompleks Masjid Nabawi inilah terdapat makam rasulullah Muhammad SAW.

Di sisi lain, Rasulullah SAW melarang umat muslim bersikap sombong kepada sesama manusia di manapun berada. Dalam konteks kekinian, masih dijumpai banyak pejabat atau atasan yang beragama Islam, namun bersikap arogan dan sombong dengan kekuasaannya, sehingga merugikan, bahkan menzhalimi rakyat atau bawahannya. Padahal, kekuasaan adalah wewenang, bukan kesewenang-wenangan.

Sayyidah ‘Aisyah RA berkata: “Pada hari Rasulullah SAW wafat, para shahabat melihat beliau dalam keadaan membaik di pagi hari. Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira. Yang masih menunggu adalah kaum wanita. Melihat keadaan beliau seperti itu, kami merasa bergembira. Tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda kepada kami: ‘Keluarlah kalian dari ruanganku. Malaikat itu minta izin untuk masuk menemuiku’.Semua orang yang ada di rumah keluar, selain aku. Kepala beliau berada di pangkuanku. Lalu beliau mengambil posisi duduk. Aku pun menjauh ke sudut rumah.

Setelah berbincang cukup lama dengan malaikat, Rasulullah SAW meletakkan lagi kepala beliau di pangkuanku. Aku bertanya, ‘Itu tadi bukan Jibril AS?’. Beliau bersabda: ‘Benar, wahai ‘Aisyah. Itu tadi adalah malaikat maut. Dia datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus dan menyuruhku agar tidak masuk menemui Anda, kecuali atas seizin Anda. Jika Anda tidak mengizinkan, aku akan kembali; dan jika Anda mengizinkan, aku akan masuk. Allah menyuruhku agar tidak langsung mencabut nyawa Anda, sebelum Anda yang memerintahkan. Apa yang Anda perintahkan kepadaku?’ Beliau menjawab, ‘Tunggulah, sampai Jibril AS datang kepadaku. Ini adalah saatnya Jibril datang’.

Makam Rasulullah SAW yang tertutup. (detik)

Kemudian Jibril AS datang tepat waktu. Rasulullah SAW menceritakan dialog beliau dengan malaikat maut. Jibril AS berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabb-mu sudah rindu kepadaku. Demi Allah, malaikat maut sama sekali tidak pernah meminta izin kepada siapapun untuk selamanya. Tetapi Rabb-mu ingin menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu. Dia rindu kepadamu. Jadi, tenang saja, sampai malaikat maut itu datang”.
Sungguh, Rasulullah SAW adalah manusia istimewa di sisi Allah SWT. Sampai-sampai malaikat maut pun harus izin langsung kepada beliau. Sedangkan manusia pada umumnya, tidak mengetahui lokasi kematiannya (Q.S. Luqman [31]: 34) dan tidak mampu menghindari kematian, kendati bersembunyi di bungker paling kokoh sekalipun (Q.S. al-Nisa’ [4]: 78).

Hikmah lain yang terkandung pada riwayat di atas adalah begitu besarnya cinta para shahabat terhadap Rasulullah SAW, baik kaum laki-laki maupun wanita, sehingga mereka setia menunggui di area sekitar rumah Rasulullah SAW, bahkan sebagian masuk ke dalam rumah beliau. Riwayat tersebut juga menunjukkan begitu dahsyatnya romansa cinta yang ditampilkan oleh Rasulullah SAW dan Sayyidah ‘Aisyah RA di detik-detik terakhir hidup beliau.

Dalam riwayat lain, Sayyidah ‘Aisyah RA sempat mengunyahkan siwak agar lembut, kemudian digunakan oleh Rasulullah SAW untuk bersiwak. Sehingga Sayyidah ‘Aisyah RA mengenang momen wafatnya Rasulullah SAW dengan pernyataan, “Rasulullah SAW wafat di rumahku dan di atas pangkuanku. Allah menyatukan antara air liurku dengan air liur beliau ketika beliau wafat”.

Sebuah kisah cinta romantis yang seharusnya diceritakan kepada generasi muda-mudi muslim, sehingga mereka lebih mengidolakan rumah tangga harmonis dunia-akhirat khas Rasulullah SAW; dibandingkan kisah cinta berbalut zina di sinema maupun novel, karena kedua tokohnya masih belum resmi menikah.

ilustrasi

Selanjutnya malaikat maut datang dan meminta izin. Rasulullah SAW mengizinkan dan memerintahkan malaikat maut: “Temukan aku dengan Rabb-ku sekarang”. Kemudian Sayyidah ‘Aisyah RA bercerita: “Aku menghampiri Nabi SAW. Aku letakkan kepala beliau di atas dadaku sambil memegangi dada beliau. Sementara beliau mulai pingsan, hingga keningnya mengeluarkan keringat. Tidak pernah aku mencium keringat yang lebih harum daripada keringat beliau ketika itu.

Saat siuman, Rasulullah SAW bersabda: ‘Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya nyawa orang mukmin itu keluar disertai dengan keluarnya keringat. Sementara nyawa orang kafir itu keluar dari mulutnya, seperti keluarnya nyawa seekor keledai’.

Pada saat detik-detik wafatnya Rasulullah SAW tersebut, hanya Sayyidah ‘Aisyah RA dan saudaranya yang menyaksikannya. Sayyidah ‘Aisyah RA berkata: “Akhirnya Rasulullah SAW wafat, sebelum datang seorang pun. Rupanya Allah Ta’ala menghalangi mereka dari beliau, karena Jibril dan Mikail lah yang mengurus beliau. Detik-detik jelang wafat, berkali-kali beliau mengucapkan: al-Rafiqu al-A’la, al-Rafiqu al-A’la. Rasulullah SAW wafat pada hari senin menjelang tengah hari (waktu dhuha)”.

Terkait prosesi perawatan jenazah, Sayyidina Abu Bakar RA pernah bertanya langsung kepada Rasulullah SAW saat beliau sakit. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian telah selesai memandikan dan mengafaniku, letakkan aku di atas ranjangku di rumahku ini, di tepi kuburku. Kemudian tinggalkan aku sebentar, karena yang pertama kali ‘menshalatiku’ adalah Allah SWT (Q.S. al-Ahzab [34]: 56). Kemudian Allah memberi izin kepada malaikat untuk menshalatiku.

Sedangkan makhluk yang pertama kali menshalatiku adalah Jibril AS, lalu Mikail AS, lalu Israfil AS, lalu malaikat maut beserta anak buahnya yang banyak, lalu seluruh malaikat, kemudian kalian semua. Maka masuklah kalian berbondong-bondong kepadaku, shalatkanlah aku dan ucapkan salam kepadaku”.

Editor : chusnun hadi