RADIUS

Fri Oct 22 2021 01:30:09 GMT+0000 (UTC)

#Ekonomi dan Bisnis

Saatnya Mengurangi Sampah Makanan

Makanan yang terbuang mengakibatkan dampak kerugian ekonomi sebesar Rp213 - 551 triliun pertahun

Bahan makanan dan makanan yang dibuang berpotensi merugikan ekonomi hingga Rp551 triliun. (gettyimage)

Surabaya-Radius – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengkampanyekan program ketahanan pangan dengan tiga langkah mudah. Pertama, mengkonsumsi makanan sehat. Kedua, berkebun di lingkungan rumah sendiri, dan ketiga, menghargai makanan yang sudah ada.

“Sumber karbohidrat sangat beragam, seperti umbi-umbian, sukun, jagung, dan lain-lain, yang nilai gizinya setara dengan beras ataupun tepung terigu. Masyarakat harus mengakses makanan sehat," kata Gubernur Khofifah dikonfirmasi Radius melalui Dinas Kominfo Jatim.

Setiap Bulan Oktober, masyarakat dunia memperingati World Food Day atau Hari Pangan Sedunia (HPS) yang tepatnya pada 16 Oktober. Sesuai dengan tema yang diangkat Food and Agriculture Organization (FAO) tahun ini, adalah "Our actions are our future - better production, better nutrition, a better environment and a better life", dibutuhkan peran serta masyarakat untuk penguatan ketahanan pangan.

Menurutnya, langkah mengkonsumsi makanan sehat adalah yang mengandung nutrisi cukup bagi individu untuk bergerak aktif dan dapat menghindari risiko penyakit. Sedangkan berkebun di lingkungan rumah sendiri adalah untuk membangun ketahanan pangan keluarga. Sementara, menghargai makanan berhubungan dengan kebiasaan makan secukupnya dan jangan sampai membuang makanan.

Hasil panen buah yang melimpah mengakibatkan banyak yang tak terserap pasar, sehingga terpaksa harus dibuang. (sei)

Ia menambahkan, kini saatnya masyarakat harus mengurangi sampah makanan. Apalagi menurut data yang ada, Indonesia merupakan produsen sampah makanan terbesar kedua di dunia. Sebanyak 13 juta ton makanan yang terbuang, sama dengan kebutuhan pangan 11 persen orang Indonesia, atau setara dengan kebutuhan 28 juta jiwa.

Menurut data Bappenas, perkiraan food waste (sampah makanan) Indonesia berkisar pada angka 23 juta-48 juta ton/tahun. Sedang makanan konsumsi yang terbuang di Indonesia bisa mencapai 115-184 kg perorang dalam setahun. "Perhitungan angka 115 - 184 kg per orang per tahun itu termasuk perhitungan dari food loss, dari sisi produksi. Mulai dari beras ditanam sampai ke piring kita," jelasnya.

Limbah makanan itu sendiri, ternyata dapat mengakibatkan dampak kerugian ekonomi sebesar Rp213 - 551 triliun pertahun. Bila jumlah penduduk Jawa Timur pada 2020 mencapai 40,7 jiwa (Jatim Dalam Angka/BPS 2021), potensi food waste di Jatim berkisar pada 4,7 juta ton hingga 7,5 juta ton pertahun. Tingginya angka food waste tersebut tentu dapat berdampak pada perekonomian dan sektor lainnya.

Gubernur Khofifah juga mengingatkan kepada para generasi muda agar dapat memilih bahan pangan yang sehat, aman, bergizi dan juga bermutu. "Generasi milenial dapat menjadi duta keamanan pangan dan mengajak lingkungan di sekitarnya untuk membeli panganan produk lokal," ujar Khofifah.

Produksi Padi Meningkat

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2021 diperkirakan sekira 45,61 juta ton gabah kering giling (GKG), atau mengalami kenaikan sekira 65,39 ribu ton GKG (0,14 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 45,55 juta ton GKG. Sedangkan potensi produksi padi sepanjang Oktober hingga Desember 2021 sebesar 9,66 juta ton GKG.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat melakukan panen raya. (kominfo jatim)

Dengan demikian, total potensi produksi padi pada 2021 diperkirakan mencapai 55,27 juta ton GKG, atau mengalami kenaikan sebanyak 620,42 ribu ton GKG atau 1,14 persen dibandingkan 2020 yang sebesar 54,65 juta ton GKG.

Kepala BPS, Margo Yuwono, mengatakan bahwa kenaikan produksi padi 2021 tersebut pada kondisi luas panen padi 2021 lebih rendah dibandingkan 2020, yakni diperkirakan 10,52 juta hektar atau mengalami penurunan sebanyak 141,95 ribu ha (1,33 persen) dibandingkan luas panen padi 2020 yang sebesar 10,66 juta ha.

"Dengan melihat produksi padi dan luas panen memang terlihat ada kenaikan produktivitas padi nasional. Pada tahun ini produktivitas padi sebanyak 52,56 kuintal per hektar, sementara tahun lalu 51,28 kuintal per hektar," tuturnya.

Sedangkan khusus pertanian di Jatim, BPS Jatim mencatat potensi panen sepanjang Oktober hingga Desember 2021 sebesar 0,24 juta hektar. Dengan demikian, total potensi luas panen padi di Jatim pada 2021 mencapai 1,755 juta hektar, atau mengalami kenaikan sekitar 433 hektar (0,02 persen) dibandingkan tahun 2020 sebesar 1,754 juta hektar.

Puncak panen di Jatim tahun 2021 lebih cepat dibanding dengan tahun 2020. (nun)

Koordinator Fungsi Statistik Produksi BPS Jatim, Adenan, mengatakan, berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), terjadi pergeseran puncak panen padi pada 2021 dibandingkan 2020. Puncak panen padi pada 2021 terjadi pada bulan Maret, sementara puncak panen pada 2020 terjadi pada bulan April.

Sedangkan realisasi panen padi sepanjang Januari hingga September 2021 sebesar 1,515 juta hektar, atau mengalami penurunan sekitar 256 hektar (0,017 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 1,516 juta hektar.

“Luas panen tertinggi pada 2021 terjadi pada Maret, yaitu sebesar 385 ribu hektar, sementara luas panen terendah terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 55 ribu hektar,” ujar Adenan dalam rilisnya, Kamis (21/10/2021)

Tiga Kabupaten/Kota dengan total potensi produksi padi (GKG) tertinggi pada 2021 adalah Ngawi, Lamongan dan Bojonegoro. Sementara, tiga kabupaten/kota dengan potensi produksi padi terendah adalah Kota Mojokerto, Kota Batu, dan Kota Blitar.

Writer/editor : chusnun hadi