
Penampilan musisi jalanan di emperan Cafe Kajoetangan, Minggu (06/03/2022). (zaa)
Malang, Radius - Seniman jalanan menunjukkan kembali taringnya di emperanPujasera Kajoetangan Heritage Kota Malang, Minggu (06/03/2022). Di tengah naiknya kasus Covid-19 Kota Malang mereka mencoba "main aman".
Berjuang di tengah pandemi, musisi jalanan tetap ingin eksis tanpa membahayakan orang lain dengan menciptakan kerumunan yang pada akhirnya menjadi celah penyebaran Covid-19. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa banyaknya penonton selalu menjadi indikator suksesnya acara. Tetapi, kondisi yang sekarang terjadi, tidak bisa disamakan. Prioritas musisi ini fokus pada tetap tampil namun menjalankan protokol kesehatan (prokes) untuk kepentingan kedua belah pihak.
Dodiq Mahabbah, musisisi Kota Malang yang tampil di Pujasera tersebut mengaku kepada Radius, bahwa dia sangat bersyukur di tengah keterbatasan yang ada. Sebelumnya, sejak pihak Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata menghentikan giat musik Kajoetangan beberapa waktu lalu membuatnya cukup kecewa.
"Saya berharap ini menjadi jalan tengah. Kami tampil seadanya tentunya dengan protokol kesehatan," kata Dodiq.
Apalagi, selama pandemi dua tahun ini, musisi sepertinya terpaksa mati suri. Walaupun rasa ingin bangkit kembali selalu ada, tetapi masih terganjal dengan ancaman baru Covid-19 yang seakan tidak pernah berhenti.
Dengan durasi yang menurutnya cukup, yaitu sekitar 2 jam. Dirinya ingin bahwa acara ini tetap berkelanjutan dan bisa mengajak musisi lainnya untuk sama-sama bertahan. Lagi-lagi, meskipun di tengah keterbatasan penonton.
Sebuah kotak apresiasi alias tempat saweran dari penonton juga turut disediakan. Setidaknya begitulah penghasilan musisi jalanan saat ini. Meskipun begitu, Dodiq dan musisi lainnya tetap berusaha menampilkan yang terbaik.
Dodiq tidak sendirian kali ini. Dia tidak mau serakah mengambil umpan sendirian. Teman-teman sesama musisinya juga turut diajak dalam penampilan hari Minggu ini. Seperti, Bonerutzy, rapper asal Kota Malang yang juga menjadi teman sejawatnya. Ada pula teman-teman lainnya yang turut menjadi pengiring musik untuk penampilan mereka.

Bonerutzy, Rapper asal Kota Malang. (zaa)
Bonerutzy mengungkapkan kepada Radius, bahwa penampilan ini menjadi wadah yang dinantikan oleh para seniman. Bagaimana tidak, pandemi benar-benar mengubah konteks "konser" bagi musisi.
"Sebagai musisi kita punya karya. Tapi kita butuh etalase untuk memamerkan karya tersebut agar pesannya tersampaikan," kata Bonerutzy.
Konsep featuring dalam penampilan musisi jalanan dengan tajuk "Musik Uklam-Uklam" dibawa karena para musisi mengalami kesulitan apabila harus berdiri dengan kaki sendiri. Sehingga, saling dukung antar musisi harus dilakukan.
Tepat di depan emperan sebuah Cafe Kajoetangan, pengelola Cafe mengaku meskipun ada pertunjukan musik di terasnya, pihaknya tidak mengizinkan adanya kerumunan. Pasalnya, saat ini Pemerintah Kota sedang galak untuk memperketat protokol kesehatan.

Banner himbauan terpanjang di depan emperan Cafe Kajoetangan. (zaa)
Stand banner peringatan pun dipasang dengan tulisan kontras agar bisa dipatuhi oleh pengunjung. Sebelum pandemi, si pengelola Cafe yang tidak mau disebutkan namanya, mengaku bahwa pertunjukan musik dari seniman Kota Malang selalu dihadirkan setiap Sabtu dan Minggu di malam hari untuk menghibur pengunjung.
Dalam pengamatan Radius, selama musisi jalanan tersebut tampil, pihak pengelola Cafe menjaga dengan ketat. Bahkan, pihaknya tidak segan untuk memberi peringatan bagi pengunjung yang berkerumun.
"Kami tidak mau ada permasalahan panjang. Kita tidak pernah mengizinkan, selama masih aman ya tidak apa-apa. Jadi, peringatan itu bukan hanya sekadar pajangan," kata dia kepada Radius.
Diakui olehnya, bahwa simbiosis mutualisme selalu terbentuk antara dirinya sebagai pelaku usaha dengan seniman yang ada. Mengingat, adanya musik selalu menjadi daya tarik dan hiburan yang selalu dirindukan di masa pandemi ini.
Reporter/ Editor: Azizatul Nur Imamah
Publisher: Prasetyani Ayu Z.