RADIUS

Fri Oct 22 2021 23:36:37 GMT+0000 (UTC)

#General

Resolusi Jihad Sebagai Tonggak Hari Santri

Hari Santri Nasional untuk mengingat kembali semangat jihad para santri dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Hadratusy Syekh Kyai Haji Hasyim Asy'ari, Pahlawan Nasional Indonesia yang telah mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. (nu)

Malang-Radius – Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui proses panjang. Setelah adanya berbagai masukan dan pendapat, akhirnya tonggak peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, menjadi ketetapan sebagai Hari Santri Naisonal yang diperingati setiap tahun.

Pada awalnya, tahun 2014, Joko Widodo melakukan kampanye di Pondok Pesantren Babussalam, Banjarejo, Pagelaran, Malang. Saat itu ada pertemuan antara Jokowi dan KH. Thariq Darwis bin Ziyad, pengasuh PP Babussalam. Dalam pertemuan itu, keduanya menandatangani suatu Kontrak Politik, bahwa ada suatu peringatan Hari Santri.

Hari Santri Nasional bermaksud untuk mengingat kembali dan meneladani semangat jihad para santri untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Melalui proses administrasi dan musyawarah dengan berbagai organisasi masyarakat Islam di Indonesia, akhirnya Presiden merealisasi janjinya. Tanggal 15 Oktober 2015, secara resmi Presiden Jokowi menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Salah satu poin adalah menetapkan Hari Santri Nasional, dan tidak disertai dengan hari libur nasional.

Santri cilik bersama logo Hari Santri 2021.

Hari Santri Nasional resmi ditetapkan pada tanggal 22 Oktober, merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad fi Sabilillah dan Fatwa Jihad fi Sabilillah pada 22 Oktober 1945. Sejarah jihad para santri dipelopori oleh gerakan K.H Hasyim Asyari, seorang Pahlawan Nasional Indonesia dan merupakan Pendiri sekaligus Rais Akbar Nahdlatul Ulama.

Setelah 17 Agustus 1945, usai Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, K.H Hasyim Asyari menyebut bahwa perjuangan belum selesai. Indonesia masih harus berjuang bukan untuk mendapatkan kemerdekaan, tetapi untuk mempertahankan kemerdakaan.

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu dalam Perang Dunia II, 15 Agustus 1945, Belanda mencoba mengambil alih kedudukan. Di mana Sekutu masuk ke Indonesia diboncengi Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang mewakili Pemerintah Belanda. Kehadiran Belanda dianggap sebagai ancaman baru bagi kedaulatan Indonesia.

Pondok Gontor, salah satu pondok pesantren di Jatim yang memiliki ribuan santri. (gontor)

Pada tanggal 17 September 1945, Presiden Soekarno melalui utusannya, meminta fatwa kepada KH. Hasyim Asyari atas hukum dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, K.H. Hasyim Asyari menjawab pertanyaan Presiden Soekarno bahwa umat Islam perlu melakukan pembelaan terhadap tanah air dari ancaman asing.

Di sisi lain, Belanda terus memprovokasi Indonesia. Salah satunya adalah terjadinya peristiwa menurunkan dan merobek warna biru pada Bendera Belanda (merah-putih-biru) yang berkibar di atap Hotel Yamato, Surabaya, Jawa Timur pada 19 September 1945 oleh arek-arek Suroboyo. Sehingga, menyisakan warna merah dan putih.

Presiden Soekarno kembali berkonsultasi dengan KH Hasyim Asy'ari. Apalagi saat itu KH Hasyim Asy'ari memiliki pengaruh besar pada para ulama dan santri. Sehingga, bisa menggerakkan jihad umat Islam.

Menindaklanjuti pertemuan itu, para ulama se-Jawa dan Madura menetapkan Resolusi Jihad dalam sebuah rapat di Kantor Pengurus Besar NU di Jalan Bubutan VI/2 Surabaya, pada 21-22 Oktober 1945. Adapun keputusan itu kemudian disebarluaskan melalui masjid, mushola bahkan dari mulut ke mulut.

Film Sang Kyai, salah satu film yang menunjukkan perjuangan Hadratusy Syekh Kyai Haji Hasyim Asy'ari.

Datangnya Tentara Inggris pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, yang menjadi buah dari Agresi Militer Belanda II pada tanggal 25 Oktober 1945 di Surabaya, menjadi tanda yang mengawali persiapan dan pengiriman pasukan santri.

Tidak lama setelah itu, para kyai dan santri bergerak ke Surabaya. Koran Kedaulatan Rakjat saat itu memberitakan bahwa fatwa Resolusi Jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asyari berhasil menggerakkan 60 juta umat Islam untuk bersiap melaksanakan Jihad fi Sabilillah.

Resolusi jihad memang sengaja tidak disiarkan melalui radio atas dasar pertimbangan politik. Namun resolusi ini disampaikan oleh Pemerintah melalui surat kabar Kedaulatan Rakjat pada 26 Oktober 1945.

Pada tanggal 28 Oktober 1945, pasukan sekutu di bawah Mallaby mengabil alih lapangan udara Morokrembangan dan beberapa gedung penting, seperti kantor jawatan kereta api, pusat telepon dan telegraf, termasuk Rumah Sakit Darmo. Pertempuran besar tidak terelakkan. Sebanyak 6 ribu pasukan Inggris melawan 120 ribu pemuda Indonesia yang terdiri dari para santri dan tentara.

Dampak perlawanan itu sepertinya tidak terpikirkan oleh Pasukan Sekutu yang mengultimatum agar seluruh pemuda dan pasukan bersenjata bertekuk lutut. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Brigadir Jenderal Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945.

Dalam pertempuran yang berlangsung sekitar tiga minggu itu, tidak terhitung banyaknya santri yang gugur sebagai syuhada dalam perjuangan revolusioner mengusir penjajah Belanda. Pertimbangan inilah, yang membuat 22 Oktober menjadi Hari Santri Nasional.

Isi Lengkap Resolusi Jihad

Bismillahirrochmanir Rochim Resoloesi :

Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsoel2) Perhimpoenan Nahdlatoel Oelama seloeroeh Djawa-Madoera pada tanggal 21-22 October 1945 di Soerabaja.

Mendengar :

Bahwa di tiap-tiap Daerah di seloeroeh Djawa-Madoera ternjata betapa besarnja hasrat Oemmat Islam dan ‘Alim Oelama di tempatnja masing-masing oentoek mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAOELATAN NEGARA REPOEBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang :

a. Bahwa oentoek mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hoekoem Agama Islam, termasoek sebagai satoe kewadjiban bagi tiap2 orang Islam.

b. Bahwa di Indonesia ini warga negaranja adalah sebagian besar terdiri dari Oemmat Islam.

Mengingat:

1. Bahwa oleh fihak Belanda (NICA) dan Djepang jang datang dan berada di sini telah banjak sekali didjalankan kedjahatan dan kekedjaman jang menganggoe ketentraman oemoem.

2. Bahwa semoea jang dilakoekan oleh mereka itu dengan maksoed melanggar kedaoelatan Negara Repoeblik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali mendjadjah di sini maka beberapa tempat telah terdjadi pertempoeran jang mengorbankan beberapa banjak djiwa manoesia.

3. Bahwa pertempoeran2 itu sebagian besar telah dilakoekan oleh Oemmat Islam jang merasa wadjib menoeroet hoekoem Agamanja oentoek mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanja.

4. Bahwa di dalam menghadapai sekalian kedjadian2 itoe perloe mendapat perintah dan toentoenan jang njata dari Pemerintah Repoeblik Indonesia jang sesoeai dengan kedjadian terseboet.

Memoetoeskan :

1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia soepaja menentoekan soeatoe sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap oesaha2 jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia teroetama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.

2. Seoapaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat “sabilillah” oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Soerabaja, 22 Oktober 1945


Reporter : azizatul nur imamah

Editor : chusnun hadi